Selasa, 07 Juli 2009

Karakter-Karakter Manusia Prestatif

Kisah yang saya sebutkan diatas hanyalah sebagian kisah-kisah menakjubkan yang pernah terjadi pada generasi pertama. Kalau kita telusuri lebih detail lagi, tentu kita akan mendapat hikmah dan pelajaran luar biasa dari kehidupan mereka.

Maka, tak berlebihan jika Sayyid Qutb menggambarkan generasi pertama dengan gambaran yang sangat indah. Generasi pertama adalah generasi dimana semua kebaikan ada di sana, setiap individu mampu memberikan kontribusi kebaikan, dan kebaikan-kebaikan itu berada pada titik puncaknya. Dan seluruh puncak-puncak kebaikan itu tumpah ruah dalam satu tempat dan satu zaman. Generasi itu, lanjut Sayyid Qutb, tidak akan ditemukan kembali pada zaman-zaman sesudahnya.

Zaman itu adalah zaman dimana manusia mencapai puncak prestasi terbaik dalam seluruh aspek kehidupan. Mereka adalah orang-orang yang mempuyai empat karakter manusia prestatif yang memungkinkan mereka menjadi pemimpin-pemimpin peradaban dunia. Apakah empat karakter itu? Kalau kita telusuri perjalanan hidup genrasi pertama yang demikian gemilang, paling tidak kita akan menemukan empat karakter yang menjadi ciri kepribadian para sahabar RadhiaAllahu ’anhum. Mari kita telusuri dan semoga dengannya kita bisa meneladani

Karakter pertama yang melekat pada para sahabat adalah mampu memaksimalkan seluruh potensinya. Manusia prestatif adalah mereka yang mampu menggunakan segenap potensi yang ada dalam dirinya sampai pada titik puncaknya (maksimal). Ukurannya memang menjadi sangat relatif tergantung kemampuan masing-masing orang. Dengan ukuran ini, ada seseorang yang seakan telah mencapai prestasi namun sebenarnya biasa-biasa saja. Namun ada juga yang biasa-biasa saja tetapi sebenarnya dia seorang yang berprestasi.

Begini kira-kira ilustrasinya...

Ada seorang siswa berbakat dalam pelajaran matematika, dan dengan bekal bakat kecerdasan itu, seharusnya dia mampu mendapatkan nilai sepuluh. Tapi, karena siswa ini enggan belajar, dia hanya bisa mendapat nilai delapan. Maka anak ini belum terhitung anak berprestasi. Ya, walaupun nilai delapan adalah ukuran nilai yang cukup baik. Ada juga seorang siswa yang tidak bakat dibidang matematika dan dia mendapatkan nilai delapan dalam raportnya. Boleh jadi inilah prestasi, jika siswa ini telah berusaha sedemikian rupa sampai usaha maksimal. Nilai delapan siswa pertama hanya sekedar nilai, tetapi bukan prestasi. Karena nilai itu didapatkan tanpa usaha yang maksimal atau bahkan nyaris tidak melakukan usaha. Siswa tersebut hanya mengerjakan dengan menggunakan bakat yang dibawanya sejak lahir. Sedangkan delapan sebagai nilai dari siswa kedua adalah prestasi karena dia mendapatkan nilainya dengan kerja keras.

Prestasi adalah ketika seseorang telah mencapai batas maksimal dari seluruh usaha untuk mendayagunakan seluruh kemampuan dirinya. Seorang ulama, Ibnul Jauzi Rahimahullah menasehatkan kepada kita, ”Wajib bagi seseorang yang cerdas untuk berusaha menggapai puncak yang bisa ia capai. Andaikata anak Adam bisa membayangkan bahwa ia sanggup ke langit, maka diamnya di bumi adalah perkara yang sangat dibenci.”

Syaikh Abdullah Azzam-seorang ulama dan mujahid-pernah mengajarkan simulasi yang menghentak kesadaran murid-muridnya tentang arti mastatho’tum (berusaha sekuat tenaga sampai titik maksimalnya). Untuk menjelaskan titik maksimal itu, Syaikh mengajak murid-muridnya untuk berlari mengelilingi lapangan. Mulailah Syaikh berlari diikuti murid-muridnya. Sekali putaran, dua kali, tiga kali, semua muridnya masih bertahan. Lima kali, enam kali, tujuh kali putaran, sudah tampak lah kelelahan dan kepayahan pada wajah para muridnya. Pada putaran-putaran selanjutnya satu persatu meminta izin untuk istirahat. Wajah Syaikh pun sudah tampak lelah, tapi ia terus berlari sampai tak ada satu muridpun menyertainya. Semuanya menyerah. Izin untuk beristirahat.

Melihat Syaikh yang terus berlari dalam kepayahan, para muridnya mulai khawatir terjadi sesuatu pada guru yang sangat mereka cintai. Kekhawatiran mereka terbukti. Setelah putaran yang kesekian puluh kalinya, Syaikh Abdullah Azzam jatuh tersungkur dan pingsan. Tergopoh-gopoh mereka menggotong Syaikh dan berusaha menyadarkannya. Alhamdulillah, tak berapa lama Syaikh tersadar. Murid-muridnya dengan perasaan senang bercampur heran bertanya, ”Syaikh kenapa kau melakukannya?” Dengan senyum bijaknya Syaikh Abdullah Azzam menjawab, ”Kalian tahu, apa yang kulakukan tadi adalah yang dimaksud mastataho’tum

Kadang kita hanya merasa lelah, bukan benar-benar lelah. Kadang kita hanya merasa kantuk bukan benar-benar kantuk. Kadang kita hanya merasa capek bukan benar-benar capek. Merasa lelah dan benar-benar lelah adalah dua hal yang berbeda. Merasa capek dan benar-benar capek adalah dua hal yang berbeda. Merasa kantuk dan benar-benar kantuk adalah dua hal yang berbeda. Murid-murid Syaikh Abdullah Azzam dalam kisah diatas adalah mereka yang hanya merasa lelah. Sedangkan yang benar-benar lelah adalah Syaikh Abdullah Azzam. Kelelahan beliau ditandai dengan tersungkur dan pingsan. Syaikh Abdullah Azzam telah memaksimalkan semua potensi fisiknya. Begitulah kira-kira ilustrasi berusaha memaksimalkan potensi kita. Jika kita telah mencapai titik maksimal dari semua pemberdayaan potensi yang kita miliki, maka itulah prestasi.

Karakter kedua yang dimiliki pribadi prestatif adalah kreatif. Berbicara tentang kreativitas, izinkan saya mengambil hikmah dari sebuah film yang sangat lucu. Film ini menjadi salah satu kenangan saya dengan teman-teman asrama beastudi etos DD Republika. Dulu, ketika saya masih satu atap dengan teman-teman di asrama Beastudi Etos, ada satu program favorit bersama dan menjadi menu program mingguan kami. Program itu adalah nonton film bareng. Dibandingkan program pembinaan yang lain, program ini adalah program yang selalu paling lengkap dihadiri oleh penghuni asrama. Semuanya rela berdesak-desakan di aula dan berebut tempat strategis agar bisa menikmati film yang diputar dengan layar komputer 14 inch.

Suatu kali salah seorang teman kami, penanggung jawab program ini menyewa sebuah film berjudul aneh, yaitu “Arghhhhh!!!” Dan isi film ini memang aneh. Film ini bercerita tentang kehidupan sebuah komunitas manusia purba yang hidup sangat sederhana. Sederhana dalam busana, sederhana dalam berpikir, dan sederhana dalam mengatur masyarakat.

Saking sederhananya, mereka menamai setiap orang dalam komunitas tersebut dengan nama yang sama. Semuanya bernama Pierre. Awalnya tidak ada masalah dalam sistem penamaan ini, karena memang jumlah anggota komunitas waktu itu hanya 5 – 10 orang. Seiring berjalannya waktu dan semakin bertambahnya anggota komunitas maka sistem nama ini membuat komunikasi diantara mereka menjadi rumit. Bayangkan saja, ketika seorang suami bermaksud memanggil istrinya, “Pierre..!!!”, maka anaknya, orangtuanya, tetangganya, dan semua yang mendengar panggilan itu datang menyambutnya. Wah, repot kan…?

Karena nama Pierre saja menimbulkan kekacauan komunikasi, maka mereka menambahkan di belakang nama Pierre dengan ciri khusus yang dimiliki tiap orang dalam komunitas. Jadilah setiap orang memiliki nama Pierre diikuti ciri khas orang ini, seperti ; Pierre si hidung mancung, Pieree si rambut keriting, Pieree si kaki pincang, dan seterusnya. Inipun masih menimbulkan kekacauan karena akhirnya setiap orang dalam komunitas tersebut harus punya ciri khusus agar disapa orang lain. Lagi-lagi masih merepotkan.

Baiklah, saya akhiri cerita film sampai disini…

Film ini mengantarkan saya pada perenungan tentang nama dan kreativitas. Sekarang, mari kita bayangkan jika sistem penamaan orang itu terjadi di masa kini, dengan jumlah manusia yang telah mencapai jutaan bahkan milyaran orang. Atau coba kita perkecil sekupnya sebatas lingkungan RT dimana kita tinggal. Kira-kira apa yang akan terjadi jika satu RT dimana kita tinggal namanya sama? Rumit dan repot luar biasa bukan?!

Segala puji bagi Allah yang mengkaruniakan kepada manusia akal cerdas, dan terus berkembang dari waktu ke waktu. Syukurlah Allah memberikan kemampuan kepada kita untuk menemukan nama yang berbeda untuk setiap bayi yang lahir di zaman ini. Walaupun terkadang baik sengaja atau tidak sengaja ada nama yang sama. Kalaupun ada nama yang sama, biasanya hanya kebetulan saja, yang jelas sudah tidak menimbulkan kekacauan komunikasi seperti komunitas manusia purba tadi.

Mari kita bersama-sama memuji Allah dan bertasbih kepada-Nya. Subhanallah…walhamdulillah….ternyata kemampuan kita untuk memilih dan menemukan variasi nama orang adalah nikmat yang luar biasa.

Ternyata urusan nama bukanlah urusan yang sederhana. Dari perkara nama inilah peradaban manusia dibangun pertama kalinya. Dimulai ketika sebuah amanah dibebankan kepada kita., makhluk yang bernama manusia.

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat,”Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah disana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “sungguh Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqoroh : 30)

Kisah pengukuhan manusia menjadi khalifah di muka bumi ini menjadi awal rangkaian kisah berikutnya; sujudnya malaikat pada Adam, ingkarnya iblis pada Allah sekaligus deklarasi permusuhan Iblis dengan manusia, lahirnya setan sebagai pasukan Iblis, kisah turunnya para nabi dan rasul, serta jutaaan kisah lain yang mewarnai bumi ini.

Satu hal yang sangat menarik kalau kita cermati adalah persiapan Adam untuk memulai karirnya sebagai khalifah di bumi ini. Allah mempersiapkan Adam untuk menjadi khalifah dengan pelajaran pertama tentang nama.

“Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya. Kemudian dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfrman,”Sebutkan kepada-Ku nama semua benda ini jika kamu benar.”

Sekali lagi, ternyata urusan nama bukanlah urusan yang sederhana. Urusan nama menunjukan satu aspek penting dari kunci peradaban manusia. Kunci peradaban itu bernama kreativitas.

Munculnya banyak nama dengan berbagai variasinya baik nama orang, nama ilmiah, nama atom, nama benda, dan yang lainnya adalah wujud dari karunia Allah swt kepada manusia. Karunia itu bernama kreativitas. Dengan kreativitas inilah manusia menjalankan amanahnya sebagai khalifah dimuka bumi. Berbekal kreativitas inilah zaman menjadi dinamis. Dengan kreativitas inilah roda peradaban tetap berputar. Suatu peradaban yang sudah sedemikian jumud, begitu-begitu saja tanpa perubahan, akan segera berakhir. Peradaban itu akan digantikan oleh peradaban lain yang lebih kreatif.

Kreativitas merujuk pada karakter seseorang yang mampu menghadirkan berbagai pemikiran baru, ide-ide baru, atau solusi baru dalam kehidupan. Kalau kita bisa menghubungkan antara satu hal dengan hal yang lain, kemudian menghasilkan sesuatu yang baru maka kita adalah orang-orang yang kreatif. Seperti masalah pemberian nama tadi contohnya. Kalau kita bisa memodifikasi nama Budi menjadi beberapa nama, misalnya Budianto, Budianti, dan lain sebaginya, maka sebenarnya kita terhitung kreatif. Nah, jika setiap kita telah diberi bekal kreativitas oleh Allah, maka tugas selanjutnya adalah mengasah kreativitas itu agar memberikan manfaat untuk dunia dan untuk berkarya pada lapangan yang lebih luas.

Karakter ketiga manusia prestatif adalah inovatif. Kreatif sangat dekat dengan inovatif. Namun keduanya agak berbeda. Kalau kreatif lebih pada kemampuan sesorang menggabungkan suatu ide dengan ide yang lain, maka inovatif merujuk pada produknya. Inovasi adalah produk konkret dari kreativitas. Seseorang yang kreatif belum tentu inovatif. Tapi, seorang yang inovatif hampir bisa dipastikan dia adalah orang yang kreatif.

Ilustrasinya begini kira-kira; Ada seorang ilmuwan mengotak-atik berbagai rumus matematika, fisika, dan kimia, setelah berhari-hari di dalam ruang inspirasinya dia menemukan rumus baru dengan menghubungkan rumus-rumus yang ada sebelumnya. Maka ilmuwan ini adalah ilmuwan yang kreatif. Nah, jika dari rumus itu akhirnya muncul sebuah produk baru yang bermanfaat maka ilmuwan ini adalah orang yang inovatif.

Produk inovatif tidak selalu berupa barang atau benda. Tapi yang jelas inovasi seringkali menjadi pemicu pergantian suatu peradaban ke peradaban yang lain. Tulisan adalah karya inovatif manusia yang menjadi penanda pergantian masa pra sejarah menjadi masa sejarah. Ditemukannya mesin-mesin industri telah mengubah Inggris dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri. Lahirnya para sahabat Rasul adalah karya inovatif tarbiyah (pembinaan) yang dilakukan Rasulullah. Para sahabat inilah yang telah menerangi zaman jahiliyah bangsa Arab dan dunia waktu itu menuju zaman cahaya Islam. Nah, jika ada diantara Anda ingin mengubah masyarakat di sekitar Anda lakukanlah inovasi yang menghentak. Siapa tahu Anda akan menjadi manusia prestatif yang dikenang sejarah.

Dan yang terakhir dari keempat ciri manusia prestatif adalah orientasi kehidupan yang benar dan lurus. Kalau bicara orientasi maka kita bicara tentang tujuan. Banyak manusia telah mencapai kemampuan maksimalnya. Banyak pula yang manusia yang telah mencapai puncak kreativitas. Telah banyak orang yang menghasilkan karya besar di dunia ini. Namun seringkali kita temukan karya itu hanya menimbulkan kerusakan di muka bumi. Karya yang seperti ini sama sekali bukan prestasi.

Ukuran prestasi adalah apa yang telah disebutkan dalam salah satu hadits Baginda Nabi yang sangat masyhur, ”Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling banyak manfaatnya bagi manusia yang lain.” Itulah petunjuk Rabbani. Petunjuk itu mengajarkan kepada kita bahwa ukuran prestasi adalah seberapa besar karya yang kita hasilkan dalam kehidupan mampu memberikan kemanfaatan orang lain, dan lebih luas lagi pada dunia ini.

Selain ukuran kemanfaatan, ada satu ukuran prestasi yang disebutkan Al-Qur’an. Mari kita simak taujih langsung dari Allah mengenai apa itu prestasi.

”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu,maka mereka itulah orang-orang yang fasik”(An-Nur:25)

Telah jelas bukan Saudaraku...

Allah menyebutkan berprestasi dalam ayat diatas dengan istilah ” menjadikan mereka berkuasa di muka bumi”. Dan Allah menggunakan ukuran keimanan, amal saleh, ibadah, dan menghindari diri dari menyekutukannya sebagai ukuran prestasi seorang hamba. Atau semua itu terangkum dalam kata ikhlas lillahi ta’ala. Ketika kita mencipta sebuah karya hanya dengan tujuan Allah saja, itulah prestasi. Jika kita mampu memotivasi diri kita untuk berkarya dalam rangka menggapai ridha Allah, maka itulah prestasi

Abu Ya’la (Syaddad) bin Aus r.a. berkata: bersabda Rasulullah saw: Seseorang yang sempurna akal ialah yang mengoreksi dirinya, dan mempersiapkan amal sebagai bekal untuk mati. Dan orang yang bodoh yaitu yang selalu memperturutkan hawa nafsu, dan mengharapkan berbagai angan-angan kepada Allah (HR Attirmidhi, Tarjamah Riadhus Shalihin buku 1 hal 92)

Sekali lagi mari sering-sering kita susuri perjalanan generasi pertama. Kita sebagai seorang muslim seharusnya tiada bingung lagi mencari model manusia ideal. Ada contoh nyata yang dihadirkan sirah Rasulullah dan sahabat. Apapun profesi kita hari ini, maka sudah pasti ada formula kesuksesan yang telah dijalani para sahabat. Kewajiban kita adalah menggali, mempelajari, dan merealisasikan formula itu.

Mungkin timbul pertanyaan di benak Pembaca, kalau begitu untuk apa kita belajar dari generasi pertama? Kalau mereka hidup di masa lalu dan takkan pernah ada lagi manusia sekualitas mereka sebagaimana analisis Sayyaid Qutb. Jangan pesimis dulu! Berbahagialah kita yang dimaksud Sayyid Qutb zaman itu tidak akan terulang generasi pertama adalah dalam hal berkumpulnya orang sekualitas mereka di satu zaman dan satu tempat. Sedangkan secara pribadi, menemukan dan menjadi manusia sekualitas para sahabat masihlah mungkin kita temui di zaman ini walau sangat sulit. Begitupun masih berpeluang bagi kita untuk menjadi manusia sekualitas mereka. Tentu saja dengan syarat, menggunakan formula yang telah terbukti mereka terapkan dalam kehidupan.

Setiap kebaikan ada pada generasi pertama dan kebaikan mereka mencapai titik puncaknya. Untuk itu , mari bersama merenungi dan mengaplikasikan 15 Formula menjadi Pribadi Prestatif Generasi Pertama!!! Agar kita pun siap se-prestatif mereka dan ikut serta meramaikan bumi dengan prsetasi dan kebaikan.